Caramel Macchiato : Kumpulan Cerita Pendek | Anastanindya - The Story

caramel macchiato

Pukul tiga sore. Hari yang tepat bagi seluruh siswa di sekolah kami untuk berbahagia. Tentu saja, jam pulang sekolah merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu bagi sebagian besar orang. Kecuali, para siswa—yang katanya—rajin belajar. Tapi aku yakin, serajin dan segiat apapun dia, pasti ada kalanya dia merasa lelah dan menjadikan waktu-waktu seperti ini sebagai sesuatu yang sangat berharga.

Seperti biasa, aku kini duduk di depan kelas, lebih tepatnya pada sesuatu yang menyerupai kursi. Kau tahu, tembok sebatas pinggul yang dibangun sebagai pembatas antara koridor kelas dengan halaman sekolah. Ya, kelasku memang di lantai satu.



Rasa-rasanya smartphone sudah menjadi kebutuhan primer bagi anak sekolah seperti kami ini. Aku lihat, hampir semua orang yang sedang duduk sendirian, hanya menatap benda persegi panjang itu. Mungkin tidak hanya mereka yang hanya seorang diri, tapi bahkan sekelompok anak perempuan saling memperlihatkan isi dari smartphonenya itu lalu tertawa bersama. Ada juga yang seolah terasingkan, atau mengasingkan diri dari kelompoknya dengan terhanyut pada benda itu.

Aku? Aku pun sama. Tapi entah kepentinganku dengan smartphone ini sama atau tidak dengan mereka. Berulangkali aku menyalakan layarnya, lalu mematikannya kembali. Sesekali aku melihat-lihat akun sosial mediaku. Apapun, apapun itu yang bisa kulihat. Aku menunggu pesan atau telepon dari seseorang. Ya, kami memiliki janji untuk bertemu di sini. Apapun yang akan kami lakukan setelahnya, aku terbiasa untuk menunggunya di sini. Lokasi yang cukup strategis, karena anak tangga berada tepat di arah pukul dua dari tempatku duduk sekarang.

Tidak banyak siswa yang masih berada di sekolah, karena memang jam pulang sekolah sudah lewat satu setengah jam yang lalu. Hanya segerombol anak perempuan, seperti yang kubicarakan tadi, yang entah sedang apa. Aku tidak terlalu mengenal mereka karena mereka dari kelas dua belas, sementara aku masih kelas sebelas. Ada juga seorang siswa laki-laki, duduk meluruskan kaki di koridor seraya memangku laptopnya. Juga ada sepasang siswa perempuan dan laki-laki yang sedang mengobrol satu sama lain. Kenapa aku bilang sepasang, karena aku tahu mereka memang berkencan. Sang perempuan dari kelas sebelah, sementara si laki-laki merupakan siswa kelasku.

Baca juga : Aku dan Dirinya

Mataku tiba-tiba menangkap sesosok siswa laki-laki menuruni tangga dengan ranselnya yang hanya ia sangkutkan pada salah satu bahu kanannya, juga dengan sepatunya yang ia jinjing dengan tangan kirinya.

Ia melambai padaku dengan senyumnya yang manis. Matanya yang tidak terlalu besar, semakin meyipit, juga sepasang lesung pipi yang menghiasi wajahnya. Rasanya aku tidak akan pernah bosan dengan senyum itu. Bahkan, aku pikir itu menjadi candu bagiku. Seperti Caramel Macchiato. Manis.

“Jadi, gimana hari ini?”

“Luar biasa.” Dia duduk di sampingku, meletakkan ranselnya, lalu mengenakan sepatunya. Kebiasaan.

Ruang kegiatan siswa memang mengharuskan setiap orang yang masuk untuk melepas sepatunya. Tapi, dia selalu seperti ini setiap ada rapat atau apapun dan memiliki janji temu denganku. Menjinjing sepatunya hingga ia bertemu denganku. Katanya, malas jika harus memakainya di sana. Ramai. Jadi, akan lebih baik jika ia membawanya turun. Toh di bawah suasana lebih lengang, juga ada kursi, tempat aku biasa menunggunya sepulang sekolah.

“Oke, jadi mau ke mana kita sekarang?”

Ia mengangkat bahunya. “Gimana kalau lo yang tentuin. Jujur, gue juga enggak tahu. Enggak ada ide.”

Itulah dia. Bukan tipikal pria kreatif nan romantis yang punya ide brilian untuk memberikan hadiah untuk kekasih. Setiap ada momen spesial, akulah yang akan menjadi konsultan baginya.

 

Caramel Macchiato
Bagikan
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *