Aku dan Dirinya : Kumpulan Cerita Pendek | Anastanindya - The Story

aku dan dirinya romantic dinner

Aku sudah bangun jam 4 pagi tadi untuk membuat selusin cupcake. Oke, anggaplah itu memang selusin. Aku sendiri sebenarnya tidak yakin, berapa jumlah kue yang sudah kubuat, tapi yang berhasil terbentuk dengan sempurna berjumlah 4. Setidaknya yang kuanggap lebih baik dibandingkan yang lain. Maklum saja, aku ini bukan seorang ahli dalam memasak. Tapi, hari ini adalah hari yang spesial. Cupcake untuk merayakan ulang tahunnya. Ralat. Ulang tahunku dan ulang tahunnya.

Dia adalah sahabat baikku. Kami lahir di tanggal dan bulan yang sama, tapi dengan tahun yang berbeda. Dia satu tahun lebih tua dariku.

Entah bagaimana pada akhirnya kami bersahabat baik, tapi yang pasti, pertemuan kami berawal dari sepuluh tahun yang lalu, pada sebuah rapat OSIS di SMP kami. Dia adalah penanggung jawab divisi sementara aku adalah salah satu staffnya. Sederhana bukan? Tapi kini, dia menjadi salah satu orang yang sangat mengenalku, bahkan ku rasa melebihi dari aku mengenal diriku sendiri. Di sinilah aku sekarang, di halte busway, tepat di seberang gedung apartemennya.



Dengan menjinjing sebuah plastik berisi kotak karton berwarna putih, aku masuk ke dalam gedung apartemennya, merasakan angin dingin menerpa tubuhku. Ah, mengapa aku mendadak gugup? Padahal, momen seperti ini rasa-rasanya sudah terulang setiap tahun sejak bertahun-tahun lalu.

Ada satu masa yang terlewatkan, yaitu ketika tahun pertama dirinya di bangku kuliah. Tentu saja rasanya sulit untuk saling jumpa. Ia di Depok, sementara aku masih di Bandung. Walau bisa ditempuh dalam kurun waktu tiga jam kurang lebih, tapi tetap saja. Jadi, kami melewatkan hari itu, di tahun tersebut. Hanya itu, tentu saja.

Beruntung, setahun setelahnya aku diterima di kampus yang sama dengannya. Jika kalian berpikir bahwa aku mengikutinya, itu salah. Kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di kota itu adalah impian kami berdua. Tentu saja dengan jurusan yang berbeda. Ia dengan kuliah Teknik Sipilnya sementara aku dengan kuliah Sastra Inggrisku. Ah, mendadak aku teringat pada jembatan yang menghubungkan kedua fakultas kami.

Hari ini, lagi-lagi untuk kesekian kalinya kami akan merayakannya bersama. Ulang tahunku yang ke 25 dan dia yang ke 26.

Kini, aku sudah berada di dalam unit apartemennya, duduk di sebuah sofa di ruang tengah, menunggu dia yang sedang mondar mandir merapikan mejanya. Maklum, pekerjaannya pasti membuatnya harus menebarkan berbagai kertas, bahkan hingga ke lantainya. Gambar-gambar proyek yang tak kumengerti.

“Akhirnya rapi juga. Maaf ya, keasikan ngurusin proyek, gue jadi lupa waktu. Tau-tau lo udah dateng aja.”

Itulah kebiasaannya. Selalu tenggelam dalam kesibukannya sampai lupa waktu. Boro-boro untuk hal receh yang bisa di tunda, bahkan untuk tidur dan makan saja, bisa-bisa dia lupa.

“Tunggu sebentar, gue bakal masakin lo sesuatu. Gue bener-bener lupa waktu tadi. Tenang aja, enggak bakalan lama, kok. Cak cak cak selesai.”

Benar saja, tidak sampai setengah jam, dua piring fettucini dan semangkuk salad sudah terhidang di hadapan kami. Tak lupa dengan cupcake yang kubawa dari rumah, juga dua gelas wine.

Ah, hampir lupa. Lilin ulang tahun. Aku merogoh kantung tasku, mengambil empat buah lilin, sesuai dengan jumlah cupcake yang kubawa dari rumah. Tidak ada perlambangan angka, hanya lilin kecil yang polos, karena aku dan dia tidak ingin menghitung satu persatu usia kami. Kami hanya ingin merayakannya saja ketika hari itu tiba tanpa terbebani mengenai banyaknya masa yang sudah terlewati.

“Apa harapan lo tahun ini?” tanyanya padaku.

“Gue pengin tahun ini gue bisa kumpulin uang buat liburan ke pulau Nami. Lo tau kan? Musim gugur di sana katanya bagus banget.”

Dia mengangguk-angguk, mungkin mencoba mencerna apa yang baru saja kuucapkan. Begitulah kami, ketika orang lain menyembunyikan harapan ulang tahunnya, kami justru saling memberitahukannya satu sama lain. Jadi, salah satu dari kami paling tidak ada yang bisa mengingatkan akan mimpi-mimpi kami. Syukur-syukur saling membantu untuk menggapai hal itu.

“Kalo gue, ehm, gue berharap bisa bulan madu di pulau Nami pas musim gugur tahun depan.”

“Kenapa harus tahun depan? Eh, bulan madu? Berarti lo udah mau nikah? Sama siapa? Kok gue enggak pernah tau?”

Baca Juga : Our Last Day

Dia terdiam sesaat, entah memikirkan apa. “Kalau tahun ini, berarti sekarang, dong. Gue belom punya biaya buat nikahin lo sekarang. Apalagi buat bawa lo ke pulau Nami.”

“Ha ha ha, lo bercanda.”

Aku bingung harus merespon kata-katanya barusan dengan bagaimana. Aku pikir, pendengaranku salah, hingga dia mengeluarkan sebuah kotak sebesar kepalan tangan berwarna biru dengan pita keemasan.

“Apa ini?”

“Buka aja. Kado ulang tahun dari gue.”

Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. Ini, apa maksudnya. Sebuah pertanyaan yang rasanya sulit untuk keluar dari mulutku sendiri.

“Itu isi hati gue. Gue pengin jadi orang yang selalu bisa menjadi mimpi-mimpi lo dan gue juga pengin lo yang menemani gue ketika gue mengejar mimpi gue. Gue pengin lo dan gue jadi kita. Jadi satu kesatuan.”

Aku bisa merasakan pipiku mulai basah, karena baru saja setetes air mata jatuh dari pelupuk. Kata-katanya barusan adalah harapanku yang tak pernah berani kuungkapkan, bahkan membayangkannya saja rasanya tidak pantas. Tapi, hari ini, kata-kata itu, justru keluar dari dia. Lelaki yang ada di hadapanku. Tanpa sadar, kini aku sudah berada dalam dekapannya. Sebuah tangan yang selama ini selalu menjadi penopang dan penuntunku.

Aku dan Dirinya
Bagikan
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *