Pagi Hari di dalam Bus - Cerita Pendek | Anastanindya : The Story

pagi hari di dalam bus

Duduk di pagi hari di dalam bus, rasanya ada perasaan asing yang terselubung. Menunggu—dengan—antusias. Itulah yang kurasakan sejak setengah jam berada di sini. Duduk, sendirian, di tengah hiruk pikuk keramaian.

Tidak lama, ah tidak. Cukup lama sepertinya hingga akhirnya orang yang kutunggu datang. Dia, dengan kemeja putih yang dipadupadankan dengan kaus hitam, sepatu kets, juga ransel kesayangannya. Keningnya dipenuhi peluh yang bercucuran, sementara bibirnya kehilangan warna merah muda. Aku tertawa dalam hati. Sepertinya orang ini berlari untuk menuju ke sini. Untung saja busnya belum berangkat.



“Perut gue mules. Padahal gue udah sampe daritadi, tapi tiba-tiba ada panggilan,” ucapnya seraya membanting bokongnya ke atas kursi bus. Aku hanya mengangguk paham, lalu mengalihkan perhatianku pada smartphone. Tidak ada yang kulihat sebenarnya, tapi hanya sebagai alibi. Agar dia tidak tahu jika aku menantinya sejak tadi.

“Lo udah makan?”

Dia menggeleng. “Belum. Bangun tidur, mandi, langsung ke sini.”

Aku mengeluarkan dua buah kotak kertas dari dalam tas. Aku sengaja membelinya di perjalanan tadi. Aku tahu kebiasaannya meninggalkan sarapan jika harus berangkat pagi-pagi. Alasannya sederhana. Malas.

Aku menyodorkan salah satunya padanya. “Nih. Makan.”

Seketika dia memamerkan giginya dan wajahnya antusias. Selalu seperti ini ketika dia melihat nasi uduk, makanan favoritnya kala sarapan. Sederhana, mudah didapat, dan enak.

“Riza, lihat deh.” Dia memperlihatkan ponselnya. Ada gambar sebuah danau cantik dengan seorang pria berdiri di atas tebing. Entah siapa. “Gue pengin ke sini suatu hari nanti. Lo mau?”

Jujur aku tersentak ketika mendengar itu. Tidak, mungkin dia hanya bertanya sebagai basa-basi saja, meneruskan perkataan dia tadi.

Sambil mendengarkannya bercerita tentang danau itu, kisah dibalik terbentuknya danau itu, juga bagaimana tentang keinginannya menuju ke sana, aku membuka bungkusan nasi udukku. Tidak ada tempat sampah atau apapun benda yang bisa kugunakan untuk menyingkirkan sampah-sampah plastik ini.

Tiba-tiba, dia membuka kotak makannya tadi yang sudah tandas. “Buang di sini aja.” Cepat sekali orang ini makan, pikirku. Lantas dia kemudian mengambil plastik-plastik sampah itu dan memasukannya pada kotak makannya karena aku tak kunjung melakukannya. Selalu seperti itu. Nyatanya dia tidak melakukan apapun, tapi aku selalu menganggapnya istimewa.

Baca juga : Matahari dan Bintang

Pagi Hari di dalam Bus
Bagikan
Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *