Aku Bahagia - Kumpulan Cerita Pendek | Anastanindya : The Story

aku bahagia, hujan

Sisa-sisa hujan sepuluh menit lalu masih menyisakan kenangan bagi orang yang berlalu lalang. Langit berwarna jingga, hampir gelap. Daun-daun kering bercampur dengan genangan air. Semua hal itu selalu dinantikan oleh sesosok pria yang kini duduk di balik jendela.

Ia menyukai hujan. Ia menyukai momen dimana ia melihat langit menurunkan rintik demi rintik membasahi daun dan jalanan. Tenang dan damai rasanya.

Pria itu kini menatap layar ponselnya yang menyala, menampilkan sebuah berita yang sedang menjadi trending saat ini. Pernikahan Kim So-ra dan Jung Baek-ah. Pernikahan dari gadis yang masih ia cintai hingga saat ini.

Ia mengenal gadis itu 10 tahun lalu, jauh dari masa ia sebelum melakukan debutnya sebagai seorang idol seperti ini. Jauh sebelum gadis-gadis berteriak ketika mendengar namanya. Juga, jauh sebelum ia menjadi—seorang yang siapa pun pasti tahu—seperti sekarang.



Ia masih ingat jelas ketika pertama kali bertemu dengan gadis itu. Hari pertamanya di bangku SMA. Mereka berdua teman sekelas, sebangku bahkan. Mereka pernah berjanji satu sama lain untuk saling membantu mencapai cita-cita. Ketika itu, ia, Park Kwang-soo, mendapatkan tawaran audisi salah satu agensi artis terbesar di Korea Selatan.

Baca Juga : Kisah Terpendam

Ia tidak tahu, So-ra menyukainya, atau tidak menyukainya. Yang ia tahu adalah gadis itu bersorak kegirangan ketika ia dinyatakan lolos untuk menjadi trainee di agensi itu. bahkan sampai mengutarakan impiannya bertemu dengan personil SuperB, Cronicles, dan VIBe yang sudah lebih dahulu melakukan debut di agensi itu. So-ra bahkan mengatakan bahwa ia senang jika akan memiliki teman seorang bintang besar.

Semua itu hanya menjadi perkiraan saja bagi Kwang-soo. Nyatanya, ia menjadi sangat sibuk ketika trainee, dan menjadi benar-benar sibuk ketika debut. Menjadi idol terkenal seperti ini, membuat hubungannya dengan So-ra menjadi semakin rumit. Mereka tidak pernah berkencan, namun hubungan mereka juga tidak bisa dikatakan sebagai teman biasa. Entah nama apa yang mereka beri untuk hubungan mereka.

Kwang-soo menekan beberapa angka yang berada di luar kepalanya. Tak perlu menunggu lama untuk suara orang di seberang telepon menyapa telinganya.

“Halo. Kwang-soo!” Suara bersemangat So-ra yang bergema di telinganya, membuat Kwang-soo menutup matanya. Ia mengambil jeda sejenak, menarik napas, meredakan detak jantungnya. Jika saja ia bisa, ia ingin berteriak saat ini. Mempertanyakan pernikahan tiba-tiba ini. Baek-ah. Bagaimana bisa. Pria itu adalah kenalannya. Seorang reporter. Teman dekatnya.

“So-ra,” kata-kata itu menggantung di lidahnya. Kalau boleh jujur, ia menyesal telah mengenalkan mereka berdua ketika itu. Dua tahun lalu di sebuah restoran. Andai saja hari itu Baek-ah tidak memaksa bertemu ketika ia sudah memiliki janji khusus dengan So-ra. Tapi penyesalan memang datang terlambat. Nyatanya mereka berjodoh.

“Selamat atas pernikahanmu.” Kwang-soo mencoba tersenyum.

“Maaf.” Suara di seberang telepon terdengar sedih. Membuat Kwang-soo tersenyum getir. Ia tahu gadis itu merasa bersalah. Ia tahu gadis itu menghawatirkannya. Ia tahu alasan gadis itu tidak memberitahu pernikahan ini lebih dahulu. Tapi ia sungguh tidak ingin mendengar kata-kata itu sekarang.



“So-ra, apa kau bahagia? Pernikahan ini, apa membuatmu bahagia? Baek-ah, apa ia memperlakukanmu dengan baik?” Hanya itu yang ia ingin ketahui sekarang. Jika jawabannya ‘ya’ maka ia akan tersenyum.

“Ya. Sangat. Kwang-soo. Kau juga harus bahagia.”

Kwang-soo tersenyum getir kembali. “Pasti. Aku akan bahagia, selama kau bahagia.”

 

 

Aku Bahagia
Bagikan
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *