Pertemuan Kita : Kumpulan Cerita Pendek | Anastanindya - The Story

bertemu cinta

Bus kampus sudah tidak beroperasi di jam seperti ini. Jika sekarang adalah weekdays maka bus masih ada mengingat ini masih jam 8 malam. Tapi, berhubung sekarang hari Sabtu, maka aku harus jalan kaki menuju indekosku.

Aku memang tidak menggunakan kendaraan pribadi selama di kampus. Mobil yang ada di rumah indekos ku, kubiarkan saja dan hanya ku gunakan jika aku ingin berpergian atau pulang ke rumah. bukan untuk ke kampus. Untuk apa aku menghabiskan uang untuk bensin jika masih ada layanan bus yang beroperasi di dalam kampus ini?

Aku tersenyum miris melihat gelapnya jalan dari lokasi gedung kegiatan mahasiswa ini. Salahku memang karena memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu tanpa memberitahu orang lain. Jika saja aku mengatakan pada salah satu anggota—yang membawa kendaraan—aku tidak perlu jalan kaki sendirian. Lagipula ini hari Sabtu. Tidak ada kegiatan kuliah di hari Sabtu kecuali beberapa mahasiswa yang memiliki aktivitas lain seperti kegiatan organisasinya atau klubnya. Namun entah mengapa, ketika aku melihat jalanan di luar gedung ini, sepi.



Aku mendengus dan melangkahkan kakiku keluar dari pintu keluar dan berjalan menuruni tangga kecil yang menghantarkan kepada jalanan sepi itu. Ketika aku mulai menginjakkan kaki ke jalan yang sepi itu, sebuah lampu dari belakangku memancar dan kemudian terdengar suara sepeda motor mendekat.

“Hei, pulang kemana?” Pria itu berkata sambil membuka kaca helmnya.

Aku terkejut mendengar suara berat itu menyapa telingaku. Dengan kesadaran penuh, aku segera menoleh untuk melihat siapa yang tengah berbicara itu.

Orang itu. Ya aku tahu orang itu. Orang yang memiliki senyum manis

Baca juga : Jika Aku Pergi

“Aku pulang ke indekos. Tuh disitu,” ucapku seraya menunjuk sebuah gang yang berada di ujung jalan sebelum tikungan itu.

“Aku juga tinggal di daerah situ. Wah kebetulan. Mau bareng?” Orang itu menawarkan bantuan dengan senyum yang sepertinya tulus.

Aku memandangnya ragu, namun kemudian aku mengangguk. Kupikir, daripada berjalan sendirian di jalan sepi seperti ini, lebih baik aku bersama orang ini.

Pertemuan Kita
Bagikan
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *