Nathan - Kumpulan Cerita Pendek | Anastanindya : The Story

laura dan nathan

Laura duduk di sebuah kursi kayu, tepat di samping jendela kaca. Cahaya kekuningan dari lampu jalan, juga sisa-sisa hujan yang tampak berkelip akibat cahaya yang menerobosnya, tampak dari tempatnya bersantai. Selama dua jam, sejak sepulangnya dari kantor, ia duduk di kursi ini. Kursi favoritnya.

Sudah menjadi kebiasaannya sepulang kantor atau di akhir pekan untuk menghabiskan waktu di kafe ini. Baik untuk mengerjakan sisa pekerjaannya, atau sekedar merenung.

Breeze Café bukanlah sebuah kafe mewah atau sebuah kafe yang instagramable, dimana banyak dicari orang. Tapi, Laura suka suasananya, ia suka cahaya temaram yang terpancar dari lampu-lampu gantung di atasnya, juga warna abu-abu yang melekat di dinding sekitarnya.


Lonceng pintu berdenting, menandakan seseorang tengah membukanya. Pria itu datang lagi. Ya pria itu, salah satu dari sekian banyak pengunjung yang sering datang kemari. Satu-satunya pengunjung yang menarik perhatiannya dari beberapa minggu yang lalu. Seseorang yang sepertinya memiliki hobi yang sama dengannya, duduk berjam-jam di sini.

Laura menerka-nerka, kira-kira apa yang pria itu pesan hari ini? Ah, lagi-lagi Macchiato. Wajar jika ia mendengarnya dengan jelas. Posisinya berdekatan dengan area kasir.

Pria itu tersenyum, menampakkan sebuah lesung di pipi kirinya, sementara matanya menyipit.

Sama dengan Laura, pria itu selalu duduk di tempat yang sama setiap harinya, kecuali bangkunya sudah lebih dahulu ditempati orang lain. Tapi itu hampir tidak pernah, seolah seluruh karyawan dan pengunjung sudah tahu. Baik bangku Laura maupun bangku pria itu sudah ada yang memiliki.

Entah apa yang salah, ketika pria itu menerima cangkir kopinya, ia tidak berjalan menuju kursinya. Ia menoleh ke belakang, tepat dimana Laura duduk dan menyesap Greentea latte-nya.

“Permisi,” sapa pria itu.

Tampaknya Laura tidak menyadarinya ketika pria itu berjalan ke arahnya, karena ia tersentak begitu pria itu menyapanya. Masih dengan keterkejutannya, Laura mendengar suara pria itu lagi.

“Apa kursi ini kosong?”

Laura mengangguk. Kursi dihadapannya memang kosong, dan selalu kosong. Pria itu meletakkan cangkir kopinya di atas meja, lalu menarik kursi itu.

“Kalau begitu saya ijin duduk di sini, ya? Sepertinya saya butuh teman hari ini.”

Kedua mata Laura membelalak. Sedikit, ia heran. Walaupun mereka sering berada di kafe yang sama, tapi mereka tidak saling kenal. Bertegur sapa pun tidak.

“Kau sering datang ke kafe ini.” Itu bukan pertanyaan. Laura yakin itu. Tidak ada peningkatan intonasi di ujung kalimatnya. Malah, seusai mengucapkan itu, pria itu malah menyeruput kopinya yang tampaknya masih panas. Masih banyak asap yang mengepul dari cairan di dalamnya.

Melihat pria itu baik-baik saja dengan kopi panas tersebut, Laura membenarkan pernyataannya. “Kau juga sering datang kemari.”

“Jonathan. Kau bisa memangilku dengan Nathan saja. Tapi tolong jangan panggil namaku dengan ‘Jojo’. Itu terdengar seperti nama anak-anak.” Nathan mengulurkan tangannya, menantikan wanita di hadapannya menyambutnya.

Laura hampir saja menyemburkan greentea latte-nya ketika pria itu menyelesaikan ucapannya. Ia menggigit bibir atasnya, berusaha menahan tawanya, dan mengubahnya menjadi sebuah senyuman yang sedikit aneh, lalu menjabat tangan Nathan. “Namaku Laura.”

“Laura?”

Laura mengangguk. Ia melihat pria di hadapannya sedikit ragu dengan jawabannya, seolah nama itu tidak seharusnya melekat padanya. “Ada yang salah dengan namaku?”

Nathan mengibaskan tangannya, lalu dengan sedikit panik, menjawab, “Ah, tidak. Hanya saja namamu mengingatkanku pada seseorang.”

Laura kini mengangguk paham, walau sebenarnya ia juga tidak tahu siapa orang yang dimaksud.

***

“Jadi kau memang tinggal dekat sini?” tanya Nathan. Tanpa terasa mereka sudah menghabiskan waktu dua jam di tempat ini.

“Ya. Itulah mengapa aku sering ke sini. Menghilangkan suntuk dan mengurangi kesepian.”

Nathan tertawa. “Kesepian, katamu?”

Laura menopangkan dagunya. “Ya, sedikit. Kau tahu, ada kalanya kita ingin lari dari kenyataan yang ada, atau menghilang sejenak dari lingkungan yang biasanya. Disinilah aku melarikan diri.”

Nathan lagi-lagi tertawa. Namun kali ini, tawanya sedikit berbeda. Ia dapat melihat bahwa ada yang wanita ini pendam selama ini, tanpa seorang pun tahu.

Baca juga : Kejutan tak Diharapkan

Rintik-rintik hujan kembali turun dari langit, membuat semua orang yang sedang berjalan di trotoar ataupun pengendara sepeda motor buru-buru meneduh.

“Hujan lagi. Kau tahu Laura? Aku menyukai hujan.”

Laura menatap Nathan dalam. Hujan katanya? Baru kali ini ada pria yang ia kenal, secara terang-terangan mengatakan bahwa ia menyukai hujan.

“Kau pasti berpikir bahwa aku aneh, ya kan?” Nathan tersenyum tipis, kemudian menyesap Macchiato-nya yang tinggal seteguk.

“Waktu kecil, ibuku pernah berkata bahwa hujan akan menghapus segala kesedihan manusia yang ada di bumi ini. Semuanya terbuang seiring hujan yang mengguyur. Kau tahu? Lelaki biasanya tidak menangis. Tapi, kalau rasanya semua tidak tertahankan, sesekali aku akan menangis di tengah hujan. Semuanya akan menjadi ringan setelah itu.”

***

“Laura! Hei!” Suara wanita paruh baya memanggilnya, membuatnya tersentak. “Senyum-senyum sendiri.” Maya, wanita paruh baya itu, yang juga adalah ibunya terkekeh.

“Sepertinya kau sedang jatuh cinta. Apa mama benar?”

Kedua mata Laura membelalak sempurna, kemudian pipinya memanas.

“Lihat, ma. Pipi Laura memerah!” seru Lukas bersemangat.

Sejak sebulan ini mengenal Nathan, hidupnya tidak sama lagi. Ia tidak lagi merasa ingin terus-terusan menyendiri, ia juga menjadi lebih terbuka terhadap orang lain, terutama terhadap ibunya dan Lukas, kakak laki-lakinya.

Tidak seperti 20 tahun belakangan ini, setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Kala itu ia masih kecil, masih berusia 4 tahun. Orang lain mungkin mengira bahwa ia tidak akan mengerti mengenai apa yang terjadi. Semua itu memang benar.

Semua berubah sejak ia memasuki sekolah dasar. Entah mereka tahu darimana, tapi teman-temannya sering mengolok-oloknya karena ayahnya meninggalkannya. Ibunya dan Lukas tidak pernah membahasnya, tapi kemudian ia tahu kenyataan bahwa ayahnya selingkuh dengan seorang wanita, bahkan jauh sebelum Laura lahir.

“Laura.” Suara lembut ibunya terdengar kembali setelah keheningan tercipta usai riuh tawa semenit lalu. “Kalau memang benar, mama senang. Siapapun pria itu, pasti dia adalah orang yang baik karena bisa membuat kamu kembali ceria seperti sekarang ini.”

Tatapan Laura kembali sendu, membuat Maya menyadari kesalahannya. Tidak seharusnya ia membahas hal sensitif itu.

“Sudah-sudah. Jadi, siapa lelaki itu, Laura?” Lukas berusaha memecah kecanggungan yang tercipta.

“Kak, siapa juga yang lagi jatuh cinta?”

“Lantas, siapa kakak lihat di Breeze Café kemarin?”

Laura tidak bisa menjawab. Jika ia membenarkan, maka ia pasti akan menjadi bulan-bulanan ibunya dan Lukas. Lagipula, ia sendiri belum yakin pada perasaannya sendiri.

Ia selalu merasa senang ketika nama Nathan disebut baik itu oleh orang lain, ataupun oleh pikirannya sendiri. Ia merasa berdebar-debar ketika akan bertemu dengannya, namun merasa sangat bahagia, bahkan waktu seolah berhenti, ketika bersamanya. Sepeti ketika kemarin pria itu mengusap puncak kepalanya, rasanya bahagia dan gugup sekaligus.

Maya mendesah pasrah. “Baiklah jika memang belum mau cerita. Mama hanya berharap kebahagiaanmu saja.”

Kedua pipi Laura semakin panas. Ia tidak bisa di sini lebih lama lagi. Rasanya ia akan meledak sekarang.

Laura memang sudah mulai terbuka terhadap keluarganya, tapi untuk masalah ini, dimana ia pun belum merasa yakin, ia tidak siap jika harus menceritakannya sekarang. Memikirkannya saja membuatnya hampir meledak.

“Ajak dia ke sini kapan-kapan.” Maya mengedipkan sebelah matanya.

“Hmm.. baiklah.” Tanpa sadar Laura mengatakan itu, membuat kedua orang dihadapannya bertukar pandang.

***

“Nathan, kau di mana?” tanya Laura di telepon.

“Laura!” teriak seseorang dari arah kanan, membuat Laura menoleh. Pria itu setengah berlari menghampirinya.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Nathan di sela tarikan napasnya.

“Aku gugup, Nathan.”

Nathan tertawa mendengarnya. Ia kemudian menyampirkan lengannya pada bahu Laura, merengkuhnya, mencoba menenangkan.

Jujur saja jika ia gugup saat ini. Laura dan Nathan baru saja saling mengenal dua bulan lalu, dan hari ini pria itu mengajaknya ikut makan siang dengannya juga ayahnya.

Kemarin, ayahnya menelpon untuk mengajaknya makan siang bersama. Kebetulan sekali. Nathan kemudian berpikir ingin memperkenalkan Laura pada ayahnya di momen seperti ini. Maklum, karena mereka terpisah kota. Ayahnya tinggal di Bandung, sementara Nathan tinggal di Jakarta. Tidak jauh memang, tapi tetap saja sulit untuk menemukan momen seperti ini lagi.

“Apa ayahmu sudah sampai?” tanya Laura ketika Nathan membuka pintu masuk restoran.

Nathan membalas sapaan salah seorang pelayan yang menyambutnya dengan anggukan singkat dan senyumnya. “Sepuluh menit lalu, ayah mengirim pesan singkat. Katanya ia sudah sampai.”

Laura mengangguk paham. Matanya kemudian terpaku pada seseorang yang duduk di sudut ruangan. Seorang pria dengan polo shirt berwarna kuning. Ia mengenal pria itu.

Ia ingat foto yang tidak sengaja dilihatnya dalam dompet ibunya beberapa bulan yang lalu. Foto keluarga ketika ia masih berusia satu tahun. Kala itu mereka tampak bahagia dengan Laura yang dipangku oleh pria itu. Tapi, nyatanya kebahagiaan itu hanyalah kebahagiaan semu.

Baca juga : Dokumen Rahasia

Langkah Laura seolah menjadi berat. Apa pria itu akan mengenalinya atau tidak. Terakhir kali mereka bertemu adalah dua puluh tahun lalu, setelah perpisahan itu. Ayahnya pindah keluar kota, mengikuti selingkuhan yang kemudian dinikahinya.

Pria itu, menyadari kehadiran mereka berdua, melambaikan tangannya tinggi-tinggi. “Nathan!” panggilnya setengah berteriak.

Nathan mempercepat langkahnya ketika menemukan ayahnya. “Hai, yah.” Nathan membalas sapaan itu. “Ayo Laura.”

Yah?

Laura menatap pria berbaju kuning itu. Tatapan kosong.

“Ayah maaf aku terlambat. Ah, kenalkan, ini Laura. Dan Laura, ini ayahku.”

Sepertinya Laura tidak mendengar Nathan. Seolah bertanya pada dirinya sendiri, sepatah kata keluar dari mulutnya. “Pa-pa?”

Pria itu sontak terkejut dengan cara Laura memanggilnya, juga dengan namanya. Laura.

Laura menoleh, mencoba untuk mendapat jawaban dari Nathan. “Dia ayahmu?”

Nathan mengangguk. Senyum masih menghiasi wajahnya. “Aku sudah mengatakannya padamu tadi, Laura.”

“Ka-kau Laura? Namamu Laura? Agatha Laura Rachelia?”

Jujur saja Nathan terkejut mendengarnya. Bagaimana William, ayahnya bisa mengetahui nama Laura dengan detil. Tidak seperti dirinya, biasanya orang-orang hanya mengenalnya dengan nama Laura Rachelia.


Laura mengangguk ragu.

Pria itu langsung bangkit berdri, kemudian memeluk Laura yang masih terpaku. “Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, Laura.” Ia melepaskan pelukannya, menatap Nathan. “Jadi selama ini kau mengenalnya.”

Tangan Nathan meraih lengan ayahnya, sedikit meremasnya. “Tunggu. Apa maksudnya semua ini?”

“Kau lupa, Nathan. Bukankah dulu aku sering menceritakannya padamu? Kalian juga pernah bertemu sewaktu kecil. Kau ingat, ketika kau merengek minta bertemu dengan adikmu?”

Rasanya bagai disambar petir ketika William mengatakannya dengan gamblang.

Nathan memejamkan matanya erat, kemudian menarik napas dalam-dalam. “Jadi, apa yang sempat kupikirkan ketika pertemuan pertama kita itu benar? Bahwa kau adalah Laura yang ku kenal. Laura yang sering ayah ceritakan padaku. Laura yang pernah kutemui karena rasa bersalahku?”

“Pa, Nathan, ini semua apa?” desak Laura.

Air mata Laura sudah menggenang di pelupuk matanya. Sebenarnya dalam benaknya, ia sudah paham tentang inti percakapan mereka. Tapi, ia tidak mau mencerna dan menerimanya. Ia terlalu takut jika kenyataan yang terjadi sesuai dengan apa yang ia takutkan sekarang.

“Laura.” Tangan William terulur, hendak menyentuh tangan Laura yang segera di tepisnya.

“Jelaskan, Pa. Kumohon,” pinta Laura lirih. Ingin rasanya ia keluar dari sini. Tapi tidak sampai William memperjelas semuanya. Diam-diam hatinya terus berharap bahwa pikirannya salah, tapi ternyata tidak. Semua ketakutannya terjawab ketika William menceritakan semuanya dari awal.

***

Laura duduk di pinggir danau dekat rumahnya. Angin semilir dan suara keramaian yang terdengar jauh seolah dapat membuatnya berpikir, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Tapi, pikirannya seolah kosong karena hatinya menolak semua kenyataan yang ada.

Ia terkejut dan bingung sekarang. Semuanya menjadi abu-abu. Kenapa Laura harus mengetahuinya setelah ia menyerahkan hatinya sungguh-sungguh pada pria itu. Kenapa juga ibunya Nathan harus menjadi selingkuhan ayahnya. Ah, tidak, pertanyaannya adalah kenapa ayahnya harus seburuk itu. Tanpa henti membuatnya menderita.

Air mata yang sudah mengering, kini kembali mengalir. Ia mengingat segala kenangan itu. Kebahagiaan yang hanya dapat ia rasakan selama dua bulan ini. Kebahagiaan yang baru saja ia dapatkan sejak penantian panjangnya. Kebahagiaan yang kini harus terenggut kembali darinya.

Air danau yang tadinya tampak tenang, mulai menampakkan gelombang berbentuk lingkaran yang bergerak meluas. Samar-samar, aroma tanah mencuat ke udara.

Ah, hujan rupanya.

Laura tidak bergerak dari tempatnya, juga tidak menepi. Ia justru mengulurkan tangan kanannya, menangkap tetesan air yang semakin lama semakin deras. Ingatannya melambung kepada masa di mana pertemuan pertamanya dengan Nathan. Tidak, lebih tepatnya percakapan pertamanya dengan pria itu.

Nathan menyukai hujan.

Tangis Laura semakin deras, ia terisak beberapa kali, sebelum akhirnya merasakan air tidak lagi membasahi tubuhnya. Ada seseorang di sampingnya, sedang memayunginya.

Laura menatap ujung sepatu orang itu, lalu perlahan menengadah.

Nathan. Orang itu Nathan.

Pria itu kemudian menekuk lututnya, menyejajarkan dirinya dengan Laura. Nathan mengusahakan senyumnya, sementara Laura menutup wajahnya dengan kedua tangannya, membuat Nathan menjatuhkan payungnya untuk kemudian merengkuh wanita dihadapannya dengan erat.

“Laura, menangislah sebanyak yang kau mau saat ini. Biarlah semuanya terbawa oleh hujan. Setelah itu, kita mulai semuanya dari awal.” Nathan mengeratkan pelukannya, membiarkan Laura mengeluarkan semuanya.

 



 

 

Nathan
Bagikan
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *