Hari ini adalah hari Senin. Hari yang dijadikan ‘hari paling tidak dinantikan’ oleh sebagian besar manusia. Sebuah hari yang rasanya ingin di hindari. Juga hari yang ingin ditiadakan saja. Tapi, bagi Tari semuanya berbeda. Senin ini, hari ini, adalah hari yang sudah ia tunggu sejak seminggu yang lalu.

Sudah sejak pagi tadi—lebih tepatnya subuh—Tari menyiapkan segala perlengkapan yang ia butuhkan. Ia gugup, hingga bahkan ia tidak bisa tidur semalaman. Kalau kata orang, ia hanya ‘tidur ayam’ malam tadi. Menutup mata rasanya sulit, karena berulang kali yang terlintas dalam benaknya adalah hari ini. Tanggal 23 Juli 2018.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, tidak ada yang spesial dari hari ini. Tari hanya akan menghadiri sebuah seminar fisioterapi di daerah Kuningan, Jakarta. Sebagai peserta. Bukan pembicara atau sebagainya yang mungkin akan membuat gugup.

Lagipula, ini juga bukan pertama kalinya ia mengikuti acara seperti ini. Empat tahun bekerja sebagai fisioterapi sudah cukup banyak mengharuskan ia mengikuti berbagai seminar dan workshop.

Jadi, apa yang spesial?

Toni. Pria berusia 29 tahun. Orang yang menjadi salah satu pembicara hari ini. Ada 3, sebenarnya. Tapi orang inilah yang menjadi poin utama bagi Tari. Pria yang sudah ia rindukan selama 10 tahun belakangan ini, sejak pria itu memutuskan mengambil kuliah di Melbourne. Dalam bidang yang sama dengan Tari.

Baca juga : Our Last Time

Satu tahun lalu, ia mendengar kabar. Toni sudah kembali ke Indonesia, dan membuka sebuah klinik di Kuningan. Ia juga aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia. Sibuk. Satu kata itu yang menyebabkan Tari menjadi enggan menghubungi pria itu.

Tidak, bukan itu alasannya. Ia hanya takut kecewa. Ia takut jika harapannya terlalu tinggi.

“Tari, mau sampai kapan lo cuma mondar mandir nggak jelas. Yang ada nanti kita telat. Udah jam setengah tujuh ini.” Sherly akhirnya memutuskan untuk menegurnya.

Sudah dua jam lamanya Tari mondar-mandir di depan cermin. Berulang kali ia mengganti pakaiannya karena ia terus saja merasa ada yang kurang. Merasa ada yang salah. bahkan tatanan rambutnya pun berulang kali ia ubah.

Riasan wajah, tatanan rambut, pakaian, sempurna. Sebuah blouse berlengan pendek berwarna maroon, celana tujuh per delapan warna khaki, flat shoes polos yang cantik.

“Gue gugup banget, Sher. Kira-kira dia masih inget gue nggak, ya?”

Sherly meraih sling bag hitam milik Tari, menyampirkannya pada bahu gadis itu. “Udah, sekarang lo udah cantik. Pikirin aja tujuan utama kita ke sana. Seminar.”

Bagi Sherly itulah tujuan utama mereka. Tapi tidak bagi Tari, sahabatnya sejak mereka bekerja di rumah sakit itu.

***

“Tari.” Sebuah suara bariton, yang sangat Tari kenal, membuat ia sedikit tersentak. Dengan sedikit—sangat—berharap, ia menoleh ke arah sumber suara.

Di dalam ruang seminar, tepatnya di pintu masuk, berdiri seorang pria yang mengenakan setelan jas coklat. Tubuhnya tampak berisi, tidak berlebihan. Wajahnya bersih, sepertinya ia baru saja bercukur pagi tadi, dan sebuah kacamata bertengger di depan kedua matanya yang tajam. Senyum yang sama, seperti 10 tahun lalu.

Pria itu berjalan mendekati Tari yang terpaku di sisi meja prasmanan, menatap lurus, nyaris tidak berkedip.

Baca Juga : Aku Bahagia

“Hai, Toni,” sapa Tari ketika pria itu di hadapannya. Beruntung ia sudah bisa menguasai dirinya.

Ada yang berubah dari Toni sejak sepuluh tahun lalu ia bertemu dengannya. Sepertinya ia melatih tubuhnya dengan baik. Dulu, pria itu memang sudah menyukai olahraga, tapi belum seatletis itu.

Tari ingat, dulu ketika ia masih sekolah, sekolah yang sama, tempat dimana mereka bertemu, sering sekali ia menyaksikan pertandingan basket. Maklum, Toni dulunya adalah pemain inti dari tim basket sekolah. Sekumpulan pria keren, yang akan membuat gadis-gadis sekolah mereka bersorak girang.

Apakah Tari berteriak? Tentu saja. Tapi, berbeda dengan yang lainnya, karena Toni akan selalu menghampiri gadis itu. Mereka berteman dekat, bersahabat bahkan. Yang terpenting, Tari menyimpan rasa. Entah bagaimana dengan pria itu.

“Ah, Toni, kenalkan ini temanku, Sherly. Dan Sherly kenalkan, ini Toni.”

Sherly mengulurkan tangannya dengan ringan, kemudian tersenyum penuh arti pada gadis di sampingnya. “Jadi ini sosok yang sering lo ceritain ke gue?”

Kedua mata Toni membulat, lalu menyipit, membentuk bulan sabit yang sangat tipis. “Cerita? Jadi lo udah cerita apa aja tentang gue, Tar?”

“Ban— Hmmph.” Sebuah tangan membekap mulut perempuan berpipi gempal itu.

Tari berusaha melanjutkan kata-kata Sherly yang tertunda. “Ya, cerita pengalaman selama SMA dulu, Ton. Lo sama gue kan teman dekat. Jadi banyak cerita tentang kita.”

Toni menangguk mengiyakan. Memang benar jika mereka memiliki kenangan bersama yang sangat banyak. Kenangan tak terlupakan, setidaknya bagi Tari.

“Lo bener, Tar.”

Waktu istirahat akhirnya mereka habiskan untuk mengenang kisah masa remaja bersama-sama. Sherly? Mendengarkan, menanggapi, dan ikut tertawa. Walau tidak tahu mengenai latar belakang cerita yang sedang mereka ceritakan.

“Tar, mumpung kita ketemu, gue mau kasih kabar gembira, nih. Tapi, karena gue nggak nyangka bakal ketemu di sini, jadi gue nggak nyiapin.”

Tari menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya, sebagai tanda ia menyimak dengan baik.

“Lo masih inget Susan, kan?”

“Susan temen kita pas SMA?”

Tentu saja ia masih ingat. Jika Susan yang dimaksud adalah Susan Arydiana, maka dia adalah teman sebangku Tari selama SMA. Teman berbagi cerita, bahkan berbagi contekan.

“Iya, Susan Arydiana, temen sebangku lo selama SMA.”

Tari menunggu kelanjutan kata-kata Toni. Ia menjadi sedikit kesal, menunggu ‘kabar gembira’ yang ingin pria itu ceritakan. Ia takut jika itu adalah kejutan tak diharapkan.

“Bulan depan, kami mau nikah. Gue sama Susan.”

Dunia Tari rasanya berubah menjadi gelap. Ia bingung harus berekspresi seperti apa. Jujur, ia tidak ingin mengungkap apa yang selama ini ia pendam saat ini. Tidak juga ia terlalu gembira, karena itu bohong. Bohong jika ia gembira sekarang. Bohong jika ia bahagia mendengar kabar itu.

Tari berusaha mempertahankan senyumnya. Senyum formalitas.

“Lo, sama dia, beneran mau nikah?”

Toni tertawa geli mendengarnya. “Ya beneran, dong, Tar. Masa bohong. Gue juga enggak nyangka kalau Susan bakal ikut student exchange ke kampus gue. Kita ketemu di komunitas sesama orang Indonesia di sana. Ternyata itu takdir gue sama dia, Tar.”

Sherly melihat Tari tetap tersenyum, seolah ikut bahagia. Tapi, sebagai teman, atau sahabatnya, ia tahu jika Tari tidak benar-benar senang. Ia tahu kalau gadis di sampingnya menyukai pria itu, dari tatapannya, juga dari caranya berbicara. Lagipula Tari sudah seringkali cerita tentang pria itu padanya.

“Tari, kita masuk, yuk. Acaranya udah mau mulai lagi, kayanya.”

Tari menoleh dengan kikuk. “A-ah, iya lo bener. By the way selamat ya, Ton. Tenang, gue bakal dateng kok. Kirimin aja undangannya. Masih inget rumah gue, kan?”

“Gue masih inget, kok. Nanti gue kirimin ya. Lagian gue juga belum mulai nyebar undangan. Buat lo nanti paling spesial deh. Gue kasih langsung.”

Tari tertawa hambar. Sangat hambar. Entah Toni menyadari itu atau tidak. “Enggak usah repot-repot juga. Paling spesial atau enggak, juga ujung-ujungnya lo nikah sama orang lain, Ton.”

“Eh?”

“Lupain aja. Yaudah ya, gue sama Sherly mau balik ke tempat duduk dulu. Bye. Sekali lagi selamat ya.”

Itulah pada akhirnya. Kejutan tak diharapkan, kejutan yang datang dari orang tersayang. Setidaknya, semuanya jelas sekarang, bahwa perasaan yang dimiliki Tari hanyalah perasaan sepihak, tanpa balasan.

Baca juga : Kumpulan cerita pendek lainnya

Kejutan Tak Diharapkan
Bagikan
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *