our last day

Langit mulai memancarkan cahaya jingga. Deru kendaraan semakin semarak, seiring dengan waktu yang terus bergulir. Lalu lalang orang yang berlangkah cepat, bunyi klakson, bermacam teriakan, membuat suatu singkronisasi yang sudah menjadi rutinitas ibu kota. Ramai, bising. Sangat berbeda dengan apa yang terjadi di dalam kamar apartemen studio milik John.

Hening. Pencahayaan yang minim dari celah tirai dan cahaya temaram yang berasal dari lampu meja di sudut ruangan menambah suasana aneh di ruangan ini.

Sudah sejak setengah jam yang lalu, aku dan John hanya berdiam diri. Bahkan segelas—lebih tepatnya terisi setengah—Cabernet Sauvignon yang dituangkan John belum ku sentuh. Kurasa dia juga belum menyentuhnya. Entahlah, sedari tadi aku hanya berpusat pada pikiran yang berkeliaran di kepalaku.

Jujur, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, bahkan katakan sekarang.

Baca Juga : Aku bahagia

John Heinrich, pria itu, aku mengenalnya setahun lalu. Hari itu, dia adalah salah satu klien di tempatku bekerja. Sebuah perusahan konsultan desain interior.

Awalnya, hubungan kami sebatas designer dan customer. Aku sendiri tidak tahu, kapan tepatnya kami sedekat ini. terjebak dalam ketidakpastian.

Kenapa aku berkata demikian? Itulah kenyataannya. Aku tidak tahu status hubungan kami apa. Tidak pernah ada kesepakatan diantar kami untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi kupikir hubungan kami juga tidak sedangkal rekan kerja. Paling tidak teman. Dan tiga puluh menit yang lalu, John berkata akan kembali ke Jerman.

Entah mengapa dadaku terasa sesak, mataku terasa panas. Semua rasanya rumit. Semua kata rasanya tertahan. Sepertinya sudah berulang kali aku menghembuskan napas panjang, tapi tidak ada juga yang bisa kukatakan.

“John,”

“Hmm?” Ia memutar wajahnya ke arahku, raut wajahnya sulit terbaca. Mata coklatnya yang selalu aku rindukan, rambut gelapnya, senyum cerianya. Semuanya terasa menyakitkan.

“John, bisakah kamu tidak pergi?” Aku mencintaimu. Aku ingin kau di sini.”

John meletakkan gelas wine yang sedari tadi hanya diputar-putar olehnya, lalu mendekat ke arahku.

Baca Juga : Pertemuan Kita

“Maafkan aku.” Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemariku yang mulai bergetar. “I have family.

Aku tahu dia sangat menyayangi keluarganya. Aku pun juga tahu jika ada saatnya dia kembali ke negara asalnya. Tapi bukan sekarang. Ketika semuanya masih terasa abu-abu. Aku dapat merasakan pipiku mulai basah. Entah kenapa, kini aku tidak bisa, bahkan tidak ingin menahannya.

Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, membersihkan air mataku, dan menatapku intensi. “Tiara.”

Aku mendekatinya dan memeluknya, membenamkan wajahku pada dadanya yang bidang. Aku menutup mataku dan bernapas dalam-dalam, menghirup segala kenangan darinya. Ketika aku merasakan sebuah tangan merengkuhku erat, aku kembali menatapnya.

Tidak mendengar kelanjutan dari kata-katanya, aku berusaha bertanya. “Apa yang ingin kau katakan, John?”

“Kau tahu aku tertarik padamu.” Ia mengecup pipiku, sementara tangannya menyelipkan anak rambut yang terjuntai ke belakang telingaku. “Aku menyukai segala kenangan yang kita jalani bersama.”

Kemudian ia menciumku dengan intens, membuatku memutar segala peristiwa dan hari-hari ketika aku bersamanya. Hanya kepingan-kepingan singkat, karena memang itulah adanya.

Saat ini, semuanya terasa asing.

Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa menolaknya. Segalanya terasa semakin dalam, semakin kuat. Aku suka rasa hangat yang kurasakan seiring dengan dekapan dan sentuhannya pada kulitku.

Jantungku berdetak cepat, jauh lebih cepat dari detak jarum jam yang terletak diatasku, juga jauh lebih cepat dari deru kendaraan yang samar terdengar.

Entah sejak kapan ia kini sudah berada di atasku, sementara aku berbaring di sofa hitam miliknya ini. Dada bidangnya bahkan sudah terekspos tanpa benang, menyisakan celana panjang kremnya yang masih melekat. Jujur aku terkejut dengan pemandangan dihadapanku saat ini.

Aku dapat merasakan ketika ia mengusap pipiku dengan punggung tangannya. “Jadikan ini sebagai yang pertama dan yang terakhir untuk kita sebelum aku kembali ke Jerman, Tiara.”

Baca Juga : Kisah Terpendam

Aku meraih tangannya, menyingkirkannya dari pipiku. Entah kenapa ketika aku mendengar kata-kata itu, mataku kembali panas. Aku tahu apa yang ia maksud. Aku tahu ia menginginkan itu dariku. Ini bukan yang pertama kalinya. Satu bulan yang lalu, ia pernah hampir melakukannya, tapi aku menolaknya karena memang bukan itu prinsip hidup yang ku jalani.

Mungkin akan terlihat naïf jika aku berkata bahwa aku memiliki prinsip. Tapi setidaknya, jika berkata soal hati dan keinginan, aku tidak memiliki keyakinan padanya. Aku menyukainya, bahkan mencintainya. Tapi aku tidak tahu apa yang ia rasakan padaku. Tidak pernah sekalipun ia menjawab ketika aku bertanya, bahkan beberapa kali ia mengesampingkan hal-hal yang berkaitan denganku.

Sama dengan halnya hari ini.

“Ada apa?” Ia bertanya dengan santai, kemudian mencoba menciumku kembali.

Sepertinya aku refleks menghindari ciumannya, karena ia menatapku bingung.

“Ini terlalu cepat, John.”

“Kita sudah saling mengenal selama satu tahun.”

Pipiku memanas. Aku yakin wajahku kini memerah. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikirannya. Apakah semudah itu ia mengatakannya dan memintanya dariku. Hanya dengan alasan kami sudah saling mengenal selama satu tahun.

“Kau tidak mencintaiku, benarkan? I am not your bi*ch, John.”

Aku mendorong tubuhnya menjauh, kemudian ia terduduk di sampingku, tepat di sisi kakiku. Ia menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya,

“Maaf. Ini semua salahku.”

Aku mencoba sekuat tenaga menenangkan perasaanku, meredam detak jantungku. “Tidak apa-apa. Aku mengerti. Tidak perlu minta maaf.”

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, kemudian mengusapnya kasar. Beruntung riasan yang kupakai bukan sesuatu yang akan berubah menjadi menakutkan jika tidak kuperlakukan dengan baik.

“Mungkin memang sudah seharusnya seperti ini, John. Mari kita sudahi di sini.”

Air mataku tumpah.

“Ah, tidak seharusnya aku berkata demikian, benar kan? Kita bukan sepasang kekasih. Tapi, setidaknya ijinkan aku melakukannya. Itu membuatku lebih tenang.”

Sejenak aku memalingkan wajahku darinya dan menarik napas panjang.

“Mungkin bagimu aku tidak lebih dari teman di tempat tidur, yang bahkan tidak bisa kuberikan padamu, tapi tidak bagiku. Aku menghargai segalanya. Segala kenangan yang kita buat bersama, walau sepertinya tidak penting, tapi aku bahagia. Maaf jika aku sudah menuntut sesuatu darimu. Selamat tinggal.”

Baca Juga : The Last Chocolate

 

 

Our Last Day
Bagikan
Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *